PATEN – Wakil Walikota Jambi yang juga mantan Ketua Majelis Wilayah KAHMI Dr. dr. H. Maulana, MKM, Jumat (3/6/22) bersama beberapa alumni dan HMI Cabang Jambi melalukan pendalaman materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang menjadi materi pokok kajian ke-Islam-an organisasi itu di A.T. Coffee Tugu Juang.
Hadir dalam kesempatan itu mantan – mantam Ketua Umum Cabang Jambi Normal Yahya, Faisal Alwi dan Aswan Zahari, hadir pula aktivis HMI pada eranya masing – masing Sugiono, Mansyur dan Yasir Hasbi Ketua Umum HMI Cabang Jambi.
” Resonansi zaman dan kehidupan berkembang luar biasa, kami sengaja mengkaji kembali materi kajian NDP pada kader dan alumni, ” ungkap Faisal Alwi.
Waka Organisasi Golkar ini menjelaskan, kajian materi NDP itu dimaksudkan agar pemahaman anggota dan alumni HMI tentang Islam lebih mendasar, utuh, dan tidak parsial. Sehingga substansi pesan Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, mampu dipahami, diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
“Karena kan sebenarnya Islam ini merupakan agama cinta damai, menolak terhadap kekerasan, menghormati kebebasan berfikir, serta menghargai perbedaan pemahaman,” katanya.
Kekerasan, apapun bentuknya, kendati atas nama agama, merupakan perbuatan terlarang, dan Islam tidak mengajarkan praktik kekerasan, bahkan Islam sangat menganjurkan untuk bersikap sopan, dan mengedepankan dialog apabila terjadi perbedaan pendapat.
NDP merupakan panduan kajian ke-Islam-an yang menjadi materi wajib di berbagai kegiatan pelatihan di organisasi itu, mulai dari LK I, LK II hingga LK III.
Dalam sambutannya Wakil Walikota Jambi ini mengatakan Materi kajian ke-Islam-an organisasi ini dirumuskan pada Kongres ke-9 HMI di Malang tahun 1996 dengan memberikan mandat pada tiga orang sebagai tim perumus, yakni Endang Syaifuddin Ansori (almarhum), Nurcholis Madjid (almarhum) dan Sakib Mahmud.
Pada Kongres ke-10 di Palembang tahun 1971 konsep dasar Islam ini dikukuhkan dengan nama “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan” yang disingkat dengan NDP tanpa perubahan isi sama sekali.
Pada kongres ini, NDP secara resmi dijadikan sebagai pedoman perjuangan HMI, sebagai pemahaman Islam mazhab HMI yang memuat tujuh tema pokok, yakni (1) Dasar-dasar Kepercayaan, (2) Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan, (3) Keharusan Universal (takdir) dan Kebebasan Individu (ikhtiar), (4) Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan, (5) Individu dan Masyarakat, (6) Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi, (7) Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan, serta (8) Penutup.
Dalam perkembangannya, nama NDP berubah menjadi Nilai Identitas Kader (NIK), seiring dengan perubahan asas organisasi dari Islam menjadi Pancasila, sebagai konsekuensi dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Asas Tunggal Pancasila.
Namun perubahan nama kajian ke-Islam-an HMI ini, tidak mengubah isi, dan pada tahun 1998 nama NIK kembali ke nama semula, yakni NDP, seiring dengan kembalinya asas organisasi itu dari Pancasila ke asas Islam, saat gerakan reformasi bergulir di negeri ini.
Instruktur NDP HMI Normal Yahya dan Sugiono menjelaskan, substansi kajian ke-Islam-an sebagaimana tertuang dalam NDP itu sebenarnya menginginkan agar kader-kadernya memiliki pemahaman ke-Islam-an yang toleran, menghargai perbedaan pendapat dalam menafsirkan pemahaman keagamaan melalui pendekatan “teologis-filosifis” dengan menekankan kepada pemahaman bahwa kebenaran yang dimiliki manusia nisbi, karena kebenaran sejati hanya milik Allah.
“Makanya dalam setiap penyampaian materi, yang kita tekankan pada kenisbian kebenaran manusia itu, dan agama adalah kepercayaan, serta sebagai alat untuk mendekati kebenaran mutlak, yakni Allah itu sendiri,” pungkasnya.(Nia)
Discussion about this post